LIEM

1 Mei 2009

Liem memandang ke luar jendela. Karena hanya dari jendela itulah dia bisa melihat dunia. Dan dari jendela itulah suatu hari, Liem melihat seorang gadis yang baginya adalah bidadari. Karena selama 20 tahun hidupnya, baru kali itu dia mendapatkan sebuah senyuman yang paling indah dan tulus dari seseorang.

Mereka tidak saling mengenal, dan tidak pula saling bertegur sapa. Hanya bertukar pandang dan melempar senyuman. Yah,… setidaknya begitu menurut benak Liem. Karena dia memang tidak pernah bisa untuk mengungkapkannya. Yang dapat ia lakukan hanyalah memandang jalan di sebrang jendelanya setiap sore. Saat gadis itu lewat dengan sepeda birunya. Dengan rambut panjang tergerai dan senyumnya yang manis.

Mungkin Liem jatuh cinta pada gadis sepeda biru itu. Tapi dia tak pernah bisa bilang, ataupun menjelaskan perasaan apa yang menggerogoti dadanya. Yang Liem tau, Cuma gadis sepeda biru itulah satu-satunya orang yang memberikan senyuman paling tulus yang pernah ia dapatkan. Karena sejak ia dilahirkan, Liem selalu merasakan pahit di hidupnya. Sejak Liem berumur 5 tahun, ayahya meninggalkanya dan ibunya. Dengan menanggung malu, ibunya merawat Liem, tapi ia selalu diperlakukan tidak baik oleh ibunya sendiri karena dianggap pembawa sial. Liem terlahir dengan keterbelakangan mental dan lumpuh di kakinya. Karena itu, 20 tahun hidupnya dihabiskan di atas kursi roda.

Satu hari ibunya menyuruh mandi, seperti sore-sore biasanya. Namun kali itu Liem tak juga bergeming dari jendela kamarnya. Berkali-kaki ibunya memanggil, namun tak jua digubrisnya. Malas mandi mungkin, pikir ibunya.

Kejadian yang sama terjadi untuk ke tiga kalinya. Dan kali ini ibunya jengkel sekali. Dengan luapan kejengkelan, ibunya memaksa Liem menjauhi jendela kesayangannya. Tapi hal itu malah membuat Liem berontak! Liem marah besar. Dia berteriak, terus berteriak dan meronta. Liem baru terdiam saat didorong kembali ke tepi jendelanya.

Suatu hari pintu rumah mereka diketuk oleh seseorang. Rupanya seorang kakek yang berdiri dengan mata berkaca-kaca yang ada di ambang pintu rumahnya. Bukan rentenir atau pemilik rumah kontrakan yang menagih uang kontrakan. Ibunya sangat terheran-heran melihat sang kakek membawah sebuah sepeda biru yang ban depannya sudah jadi angka delapan, dengan keranjangnya yang tak jelas lagi wujudnya. Ada apa pula kakek ini membawa rongsokan ke rumah, piker ibunya.

Kakek itu menjelaskan, bahwa sepeda itu milik cucunya. Gadis itu bernama Gendis. Seminggu yang lalu Gendis kecelakaan saat mengendarai sepeda biru itu. Ia meninggal di rumah sakit. Tapi sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya, Gendis berpesan pada sang kakek untuk memberikan sepeda itu pada seorang pemuda yang selalu menatapnya dengan mata berbinar, setiap kali Gendis melihatnya di jendela sebuah rumah. Rumah Liem.

Karena itu Sang Kakek membawa sepeda biru itu untuk Liem. Liem hanya terdiam dan memandangi tiap lekuk sepeda yang kini ditaruh di samping jendelanya. Tapi ia tak pernah beranjak dari situ. Liem tetap berharap bidadarinya akan lewat sore ini, seperti sore-sore sebelumnya. Liem tak tau, sudah berapa lama gadis itu tak pernah lewat. Tapi Liem masih setia menanti gadis bersepeda biru itu tersenyum padanya lagi.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.